Pengorbanan Menuju Cahaya Kebangkitan Islamsalah satu yang dituntut Allah dari seorang mukmin adalah pengorbanannya di jalan Allah, yaitu berkorban demi tegaknya agama Allah (li i’la’i kalimatillah). Telah banyak contoh yang kita lihat dari perjuangan Rasulullah dan para sahabat dalam hal pengorbanan di jalan Allah.
Setelah Rasulullah dan para sahabat, kita menjumpai banyak sekali generasi

setelahnya yang begitu memahami apa arti pengorbanan di jalan Allah yang sebenarnya. Sebut saja singa Allah, khalid bin walid, yang dengan gagah berani penuh kebanggaan berkata “aku lebih menyukai malam yang dingin dan bersalju, di tengah-tengah pasukan yang akan menyerang musuh di pagi hari daripada menikmati indahnya malam pengantin bersama wanita yang aku cintai atau aku dikabari dengan kelahiran anak laki-laki. (HR. al-mubarak dan

abu Nu’aim).
Kita mungkin iri dengan aksi-aksi para pejuang Palestina. Mereka mengorbankan segala yang mereka miliki sampai mereka tak memiliki lagi sesuatu yang dapat dikorbankan selain nyawa mereka. Maka nyawa pun dikorbankan demi agama Allah. Seperti aksi ‘bom syahid’ seorang remaja puteri Palestina berusia 16 tahun, pada 22 Maret 2002 lalu, di supermarket Nataynya, dekat Yerussalem. Ayat Al-akhras namanya. Bagi keluarganya, syahidnya Ayat Al-akhras cukup mengagetkan juga. Karena 4 bulan lagi, setelah ia lulus sekolah ia sudah merencanakan melangsungkan pernikahannya.

dengan seorang pemuda muslim Palestina. Namun keluarganya memahami itu dilakukannya karena syahid adalah cita-cita tertinggi puterinya. Dia mengulang kata-kata sang anak ketika berdiskusi soal kewajiban jihad bagi setiap warga muslim Palestina. “Apa nikmatnya hidup di dunia ketika kematian selalu mengintai kita. Mana yang lebih indah, mati dalam ketidakberdayaan dan kehinaan atau gugur di medan jihad.”
Islam membutuhkan pengorbanan kita. Karna pengorbanan ini yang akan membedakan kedudukan kita nanti di hadapan Allah. Semakin banyak kita berkorban semakin dekat pula kita pada kejayaan Islam. Karena itu hindari berfikir bahwa telah cukup berkorban hanya karena kita telah menjadi bagian dari pengemban dakwah di tengah-tengah banyaknya kaum muslim yang meninggalkan dakwah. Jangan pernah berfikir bahwa aktivitas dakwah adalah aktivitas “sampingan”, bukan menjadi prioritas kita.

Bukankah Rasul saja menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk dakwah. Karena itu pula tidak ada istilah dakwah melemah setelah lulus kuliah, setelah menikah, setelah punya anak atau pun setelah disibukkan untuk mencari nafkah. Pengemban dakwah tidaklah layak mengorbankan sesuatu yang minimalis untuk Allah, RasulNya, dan untuk Umat ini.
Untuk membangkitkan umat, diperlukan orang-orang yang mau bergerak secara ikhlas dan sungguh-sungguh untuk meraih kembali kejayaan Islam. Orang yang dibutuhkan adalah para pemuda Islam sekualitas para sahabat yang memiliki tauhid yang lurus, keberanian menegakkan kebenaran, serta memiliki ketaatan pada Islam. Dengan dorongan peran pemuda inilah maka perjuangan penegakan kembali aturan Allah di muka bumi ini akan berlangsung dengan giat sehingga Islam kembali tegak.
Konstelasi politik dunia mengarah kepada kejatuhan ideologi Kapitalisme-liberal. Hal ini membuka peluang bangkitnya Islam sebagai peradaban terbesar di abad ini. Namun kebangkitan Islam memerlukan sumberdaya manusia yang sangat tangguh. Karena kaum muslimin tidak sekadar dituntut membawa umat manusia untuk bangkit, tetapi juga agar tetap tegak berdiri menopang kekokohan peradaban.

Militansi dalam Meraih Tujuan
Istilah militansi sering dimaksudkan sebagai kesungguhan, kerja keras, dan mengerahkan segenap kesanggupan untuk meraih tujuan yang diinginkan. Dalam konteks militansi meraih tujuan ini, seseorang rela berpayah-payah, bekerja keras, tidak berleha-leha bahkan menanggung derita agar bisa meraih sesuatu yang dipandangnya sebagai kebenaran. Sesuatu yang dimaksud ini adalah hal berharga dalam hidupnya.
Islam sebagai ideologi memunculkan motivasi untuk melakukan yang terbaik dalam hidup setiap penganutnya, terlebih sebagai pengemban dakwah. Karena dengan melakukan yang terbaik, maka manusia akan mendapatkan balasan yang terbaik. Setiap manusia memiliki kemampuan terbaik. Ukurannya tidak pada kuantitas ataupun kualitas. Namun setiap potensi dirinya dicurahkan untuk memberikan yang terbaik, semata-mata karena Allah SWT. Tidak ada yang bisa menilai amal terbaik yang diterima selain dari Allah SWT. Islam hanya menetapkan rambu-rambu dan koridor, yaitu laksanakan kewajiban dan jauhi kemaksiatan. Maka manusia hanya dituntut untuk berbuat, dengan keyakinan bahwa Allah SWT akan menolong dan memudahkan setiap hamba-Nya yang berjalan menuju kebaikan. Keyakinan inilah yang memunculkan militansi pada diri seorang muslim.
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah maka Allah akan menolong kalian  dan mengokohkan kedudukan kalian di muka bumi.” (QS. Muhammad: 7)
Militansi yang kuat tumbuh dari ideologi yang kuat, yang tertanam dalam jiwa pengembannya. Keharusan tumbuhnya militansi dari ideologi adalah agar militansi ini tidak bersifat semu dan sesat.

Militansi Ideologi dalam Profil Muslimah
Militansi ideologis tidak akan membuat dualisme sosok pengemban dakwah. Karena militansi ini dipagari oleh syariat Islam. Seorang pengemban dakwah tidak akan menjalankan aqad-aqad yang bertentangan dengan Islam, karena ketaatan kepada hukum syara’ adalah komitmen terhadap ideologinya. Seorang pengemban dakwah tidak akan melakukan pengabaian terhadap keluarganya, karena keluarga adalah bagian dari tanggungjawabnya.
Militansi ideologis dalam profil muslimah sholihah akan semakin memberikan gambaran nyata tentang sosok muslimah yang seharusnya. Pengabdiannya kepada keluarga dan ummat adalah kemuliaan menjadi perhiasan terindah di dunia sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah muslimah sholihah.” (HR. Muslim)

Militansi, Kesadaran, dan Kesungguhan untuk Memimpin
Saat ini Ideologi Islam masih berupa benih subur yang tumbuh bersemi dalam jiwa mayoritas kaum muslimin.  Ideologi Islam belum terwujud dalam bentuk mabda (prinsip ideologis dan sistem hidup). Kaum muslimin masih hidup dalam cengkeraman sistem kapitalisme liberal. Sistem yang liberal menyebabkan manusia hidup pada kenistaan, kerusakan moral, dan jiwa. Sistem Kapitalisme yang jahat dan keji telah kasat mata diakui kerusakannya bagi sebuah peradaban manusia.
Islam menjadi harapan pengentasan umat manusia dari penderitaannya yang dalam. Harapan ini tumbuh dan bersemi dalam diri para pengemban ideologi Islam. Pada para pengemban dakwah inilah bertumpu harapan terwujudnya sistem Islam yang menyelamatkan umat manusia.
Prinsip ideologi yang menghunjam dalam jiwa tidak akan dengan sendirinya mengubah sistem hidup yang ada. Diperlukan perjuangan yang kuat agar ideologi memasyarakat kemudian terwujud dalam sistem yang nyata. Perjuangan memerlukan militansi yang kuat dari para pengembannya. Namun hal ini tidak bisa diharapkan dari mereka yang belum memahami kedalaman ideologi dan bagaimana langkah mewujudkannya. Untuk itu para pengemban dakwah harus memahami seperti apa mabda Islam dan bagaimana menerapkannya. Gambaran sistem yang utuh yang meliputi struktur negara, sistem ekonomi, sistem peradilan, sistem sosial, dan berbagai urusan kemaslahatan masyarakat harus tergambar dalam benak para pengemban dakwah. Gambaran penerapan Islam yang utuh ini telah diteladankan oleh

Rasulullah Saw dan Khulafa’ur Rasyidin dalam bentuk Negara Islam atau Khilafah Islamiyah.
Tidak akan terwujud tegaknya mabda, selain dari militansi para pengemban ideologi yang mendapat Nashrullah (karena kesungguhan pengorbanannya) untuk memimpin pergerakan menuju penegakan Daulah Khilafah Islamiyah. Militansi ideologi akan menumbuhkan kepemimpinan dalam diri para pengemban dakwah. Kepemimpinan untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran Islam ideologis dan memperbanyak kader. Kepemimpinan untuk menggerakkan para kader dalam dakwah Islam. Kepemimpinan untuk menggerakkan umat menyambut Islam dan bersama-sama memperjuangkannya. Kepemimpinan untuk menggerakkan umat agar mampu bersama-sama merobohkan sistem yang rapuh dan rusak serta menggantinya dengan sistem baru di atas landasan ideologi Islam yang kuat. Kepemimpinan agar umat bersama-sama kader dakwah menjadi kekuatan yang kokoh dan solid yang akan memberikan amal terbaik demi meraih keridloan Allah SWT.

Membangun Militansi Ideologis Pengemban Dakwah
Persoalan militansi pengemban dakwah menjadi hal yang senantiasa dibahas dalam rangka meningkatkan kualitas para kader. Uraian di atas memberikan gambaran bahwa militansi adalah hal yang tidak boleh dipisahkan dari kesadaran ideologis. Bahkan militansi tidak boleh dilepaskan dari setiap tahap pembinaan kader. Karena militansi adalah kesadaran untuk senantiasa memberikan yang terbaik sesuai pemahamannya dan juga kemampuannya. Pemahaman terhadap ideologi yang mendalam, jernih, bersih, dan cemerlang apabila menyatu dengan militansi yang tinggi akan memberikan hasil yang seringkali di luar dugaan.
Di sinilah pentingnya memahami bagaimana mewujudkan militansi ideologis pada diri kader-kader dakwah. Empat hal awal yang harus diwujudkan:
1.    Pembinaan Tsaqofah Islam dalam bentuk yang utuh dan integral. Penguasaan tsaqofah ini menjadi modal bagi para kader untuk memahami

hukum-hukum syara’. Jangan sampai ketidaktahuan terhadap hukum-hukum syara menyebabkan para kader dakwah sendiri tergelincir pada kefasadan. Tidak sekadar itu, masyarakat akan salah kaprah karena menganggap apa yang dilakukan para pengemban dakwah bukan suatu kesalahan.
2.    Pembinaan para kader agar menjadi mufakkirin-siyasiyin. Pengemban dakwah adalah guru-guru di tengah masyarakat. Mereka bukan sekadar guru dalam persoalan fiqh-fiqh ibadah dan muamalah. Tetapi juga menjadi guru dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan. Saat ini problem kehidupan kapitalistik-liberal tidak bisa dipecahkan dengan jawaban-jawaban

fiqh sebagaimana yang banyak tertuang dalam kitab-kitab para Ulama. Yang ditunggu oleh umat saat ini adalah para pemimpin yang bukan saja menguasai tsaqofah Islam, namun juga menjadi pemikir (mufakkirin) sekaligus pejuang politik (siyasiyin) agar Islam terwujud dalam realita kehidupan. Wawasan terhadap kondisi umat terkini haruslah dimiliki oleh setiap mufakkirin-siyasiyin agar bisa merancang strategi dalam rangka memenangkan pertarungan dalam kancah politik internasional.
3.    Pembinaan yang mampu memberikan arahan dan keteladanan kepada para kader agar  bisa mencurahkan kesungguhannya untuk senantiasa berpegang teguh pada hukum syara dan senantiasa memperbarui komitmen untuk memperjuangkan tegaknya Islam. Pada aspek inilah militansi menjadi target pembinaan yang selalu dipantau oleh kepemimpinan partai politik Islam ideologis sebagai institusi yang memimpin pemikiran politik umat dan membina kader-kadernya

4.    Pembinaan yang mampu melahirkan kader-kader militan yang senantiasa menjadikan amar ma’ruf nahi munkar sebagai mekanisme untuk memurnikan kristalisasi ideologi dalam jiwa dan perilaku para pengemban dakwah. Tanpa membedakan tingkatan struktur kepemimpinan, senioritas kader, usia, atau kondisi apapun.
Demikian upaya membangun militansi ideologi ini, insya Allah akan menghasilkan pejuang-pejuang Islam yang tangguh, para Mujtahid-Mufakkirin-Siyasiyyin-Mujahid Fii Sabiilillah. Generasi yang tak akan diragukan lagi militansinya.
Sungguh Allah dan Rasul-Nya telah mengingatkan kaum muslimin bahwa keimanan akan mengalami benturan yang dahsyat. Benturan itu akan semakin dahsyat ketika kehidupan dunia ini berada di tepi jaman. Oleh karena itu, istiqomah sangat penting bagi pengemban dakwah. Sikap istiqomah ini diibaratkan oleh Nabi saw. Seperti menggenggam bara api yang akan membakar siapa saja yang masih ‘berani’ menggenggamnya.
Anas bin Malik menuturkan, Rasulullah SAW bersabda: “Akan tiba suatu masa pada manusia, dimana orang yang bersabar di antara mereka dalam memegang agamanya, ibarat orang yang menggenggam bara api.”(Hr. at-Tirmidzi).
Memang, bara api itu akan membakar orang yang menggenggamnya, tapi tidaklah ia membakar melainkan akan membersihkan segala kotoran-kotoran yang ada pada dirinya. Seperti api yang membersihkan emas dari pengotornya.
Umat yang sudah berada dalam kesuraman ini membutuhkan cahaya yang benderang dari para pengemban dakwah. Jika pengemban dakwahnya juga turut meredupkan cahaya agama ini, maka bagaimana umat bisa kembali ke jalan kebenaran? Jadikanlah diri kita sebagai penggenggam bara api yang menyala. Karena semua pengorbanan diri di hadapan Allah tidaklah sia-sia. Kemuliaan dan kebangkitan umat akan terwujud dengan kejernihan dan ketegasan pemikiran serta sikap para pengemban dakwahnya. Insya Allah. Allah berfirman,
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan

Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS al-Baqarah: 214)
Ayat di atas menjelaskan bahwa bagi siapa saja yang menjadikan surga sebagai cita-citanya maka ia harus bersiap diri merasakan penderitaan, kesengsaraan, dan kegoncangan seperti yang dialami umat-umat sebelum kita. Penderitaan itu mereka dapat karena keteguhan mereka dalam mempertahankan iman dan  perjuangan menegakkan agama Allah.
Dikisahkan ada seorang sahabat yang bernama Khabbab bin al-Arts ra. Datang kepada Nabi saw. mengeluhkan penderitaan yang ia rasakan disebabkan siksaan orang-orang kafir karena ia memeluk Islam. Rasulullah saw. kemudian memberikan nasihat kepadanya bahwa apa yang ia rasakan belum seberapa dibandingkan dengan yang menimpa umat-umat sebelum Islam.
“Dahulu kaum sebelum kamu, adakalanya dikubur hidup-hidup, digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah menjadi dua, adakalanya dikupas kulitnya dengan sisir besi yang mengenai daging dan tulang, tetapi keadaan yang demikian tidak menggoyahkan iman agamanya.” (HR Bukhari)
Pengemban dakwah haruslah memberikan kontribusi dalam dakwah.

Kontribusi dalam dakwah adalah memberikan sesuatu baik jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala sesuatu yang dipunyai oleh seseorang untuk sebuah cita-cita. Ini menjadi bentuk pengorbanan seorang kader terhadap dakwah. Perjuangan dan pengorbanan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Karakter aktivis dakwah yang sesungguhnya adalah berwatak merasa ringan untuk berkorban terhadap dakwah. Tidak ada sesuatu pun yang merintanginya untuk berkorban. Ia cepat merespon tuntutan dakwah ini.
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (QS. Al Ahzab: 23)
Hakikatnya bila kita telah mendeklarasikan diri sebagai pengemban dakwah, maka sejatinya kita telah melakukan sebuah transaksi dengan Rabb Sang Pencipta. Transaksi untuk mengorbankan harta, jiwa, waktu, dan seluruh kehidupan untuk mengemban risalah dakwah ini. Firman Allah SWT:
”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah 110)
Inilah sebuah keputusan yang harus diambil seorang pengemban dakwah. Setiap keputusan, apapun itu pasti memiliki konsekuensi. Dalam hal ini konsekuensi yang harus dipahami untuk menjadi pengemban dakwah ini diantaranya adalah totalitas (tajarrud) dan pengorbanan (tadhiyah).
Dakwah menuntut totalitas. Dari sebuah totalitas akan membuahkan profesionalitas. Dakwah tidak mengenal waktu sisa, karena kewajiban yang ada lebih banyak dari waktu yang tersedia.
Sesungguhnya siapapun yang telah berazam dan meneken kontrak untuk menjadikan jihad dan dakwah sebagai jalan hidupnya, lalu kemudian berfikir dapat keluar dari kesibukannya, untuk sejenak mengambil nafas dan jatah terhadapnya maka ia adalah penabur benih yang akan ditunainya dalam panen raya kekecewaan dan penyesalan. (Ust. Rahmat Abdullah).

Tadhiyah (pengorbanan) adalah buah dari pemahaman yang lurus akan arti pentingnya dakwah Ilallah. Tadhiyah yang dimaksud di sini adalah seorang da’iyah harus mampu mengorbankan harta, jiwa, waktu, dan seluruh kehidupannya untuk kemenangan Islam. Tiada kemenangan tanpa perjuangan, Tiada perjuangan tanpa pengorbanan. Seorang da’iyah yang lurus pemahamannya adalah yang apabila dihadapkan pada posisi yang sulit selalu mengesampingkan kepentingan pribadi dan lebih mengedepankan kepentingan dakwah. Dan itulah kemurnian arti sebuah pengorbanan.
Dalam perjuangan penegakkan khilafah yang difahami sebagai sebuah kewajiban, para pejuang harus memiliki Iman yang kokoh dan hati yang ikhlas dengan segala pengorbanan-pengorbanan meski terkadang kehidupan terasa pahit.
Tidak ada satu hal besar bisa tercapai kecuali dengan pengorbanan yang juga besar. Untuk perjuangan yang maha besar ini dituntut keihklasan. Ikhlas itu berarti menunaikan kewajiban dengan tidak menyebut-nyebut saya sudah melakukan ini itu dengan maksud riya, tidak pula mengira-ngira apa yang nanti akan jadi buahnya, serta tidak membilang apa yang nanti akan jadi kesudahannya.
Iman akan melahirkan kebangkitan yang hakiki. Berbuat dengan Iman menjadikan kita punya harapan akan cahaya kebangkitan Islam. Jikalau Iman sudah bangkit dan bersinar tiadalah kekuatan duniawi yang mampu memadamkan nyalanya! Tidak ada satu bendungan raksasa pun yang sanggup menahan aliran kebangkitan Islam ketika Iman sudah tertanam dan hidup di dada kaum muslim. Mungkin saja musuh-musuh Islam mengerangkeng pejuang Islam dengan rantai tetapi tidak ada satu kelaliman pun yang dapat merantai Iman, sebab Iman menolak penindasan dan menghendaki kemerdekaan. Memang betul, bahwa (pengaruh) keimanan memang naik dan turun, tetapi trend-nya harus dijaga agar tetap naik. Futur adalah penyakit yang memang pasti akan menyerang seseorang yang tingkat keimanannya tinggi, bukan untuk menjatuhkannya, tapi untuk memperkuat dan membawa keimanannya ke level yang lebih tinggi.

Menjemput Kemenangan Islam
Pertolongan Allah itu mahal dan tidak diberikan kepada sembarang orang muslim. Ia hanya  diberikan kepada kelompok tertentu yang memiliki sifat-sifat tertentu. Kelompok ini langsung disiapkan, dibentuk, dan dibina oleh Allah sendiri agar layak berkuasa di bumi dan berhak mengemban amanah penegakan agama di seluruh dunia. Itulah Ath-Tha’ifah al Manshurah (kelompok pemenang). Kelompok inilah yang di maksud oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya:
“Di antara umatku senantiasa ada orang-orang yang menang karena berpegang erat dengan kebenaran. siapa pun yang berusaha mencampakkan mereka tidak bisa membahayakan mereka hingga datang hari kiamat, mereka tetap seperti itu.” (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Kelompok pemenang/Ath-Tha’ifah al Manshurah yang berpegang pada kebenaran ini menolong Islam tidak mengandalkan jumlahnya yang banyak. Mereka selalu merupakan kelompok minoritas. Orang-orang yang beriman pada setiap zaman dan tempat meraih kemenangan atas musuh-musuh mereka dengan jumlah yang besar dan senjata mereka. Namun, mereka meraih kemenangan karena berpegang teguh pada agama ini, yang dengan itulah Allah memuliakan mereka. Hal ini sebagaimana pernah dikatakan oleh Abdullah bin Rawahah ra. saat terjadi perang mu’tah,”kita tidak memerangi musuh dengan senjata, kekuatan, dan pasukan besar. Kita tidak memerangi mereka kecuali dengan agama ini, yang dengan itulah Allah memuliakan kita.”(Ibn Hisyam, Sirah Ibn Hisyam).
Sesungguhnya ketentuan–ketentuan Allah SWT  itu tidak dikhususkan kepada sembarang orang. Kemenangan ada sebab-sebabnya, kekalahan pun demikian. Siapa saja yang dikehendaki Allah memiliki sebab-sebab pembawa kemenangan, Allah pasti  akan menolongnya. Siapa saja yang tidak Allah kehendaki memiliki sebab-sebab pembawa kemenangan, maka silahkan untuk menyalahkan dirinya sendiri, Allah SWT berfirman:
“(Pahala dari  Allah) itu bukanlah menurut angan-angan kosong kalian dan tidak menurut angan-angan Ahlul Kitab. siapa saja yang mengerjakan kejahatan, niscaya ia dibalas karena kejahatan itu.” (QS an- Nisa’(4):123)

Pada saat-saat sekarang inilah kita perlu melakukan refleksi atas berbagai kesulitan dan kehinaan yang tengah kita hadapi. Dunia hampir-hampir putus asa menanti datangnya petunjuk. Namun tak boleh putus asa. Informasi yang dapat kita peroleh dari sirah Nabi Muhammad saw. kita akan jumpai pesan utama yang harus kita pelajari lebih jauh, yaitu bahwa Rasulullah saw. hadir laksana sebuah ‘cahaya yang menerangi’ atau siraajan munir. Satu-satunya jalan untuk mengubah keadaan gelap gulita yang kini dialami ummat manusia adalah dengan mengikuti segala sesuatu yang ditinggalkan Rasulullah saw. kepada kita. Itulah kitabullah, sunnah, dan keputusan para Khulafa ar-Rasyidin. Cara ini hanya bisa ditempuh dengan menegakkan kembali Negara Khilafah Islamiyah.
“Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah [9] : 105. Wallahua’lam.